23.1.07

Ilmu & Klenik dan Tradisi-tradisi Tua Islam-Jawa (3)

Ilmu & Klenik dan Tradisi-tradisi Tua Islam-Jawa (3)


Salah satu keterpurukan masyarakat Jawa adalah akibat terbelenggu oleh klenik dan tahyul. Keterbukaan hati, keluasan wawasan, dan etik kerja rajin masyarakat pesisir (komunitas awal mula Islam di Jawa) tergantukan oleh kepicikan dan kejumudan, yang disokong oleh mitos, klenik, dan tahyul.

Kepicikan dan kejumudan yang didasari oleh sikap ambigu. Menerima, tetapi meonal dominasi asing. Menerima pengaruh asing, tetapi pilih-pilih, Menerima pengaruh, tetapi dicampur dan direkayasa sesuai kehendak.

Nah, untuk melawan keterbukaan hati, keluasan wawasan, dan etik kerja rajin sebagai khas pekerja dan pedangan, sekaligus untuk mengekalkan kepicikan dan kejumudan, dibuatlah paham: "dedagang iku asor", berdagang itu hina. Efeknya, lahirlah para orang yang lebih rela mengabdi kepada kekuasaan, sebagai pesuruh, sebagai "gedibal", yang dilengkapi dg etik kerja malas dan menjilat. Dua kutub yang di dunia kerja saat ini masih terus ada: menjadi buruh (swasta/ negri) atau enterpreuner.

Sedangkan ilmu dan "lelaku" untuk malas dan menjilat itu tidaklah serumit dan seberat pada "lelaku" untuk rajin dan open-hearted.

Dengan kata lain, ilmu-ilmu warisan leluhur semangkin lama semangkin hilang, semangkin lama tidak ada lagi yang memahami. Yang dipertahankan hanyalah hapalan terhadap label dan prosesi, tetapi tanpa ilmu yang melandasi, yang kemudian semakin diagung-agungkan. Nasib Islam mungkin tak akan jauh sebagaimana nasib gamelan yang sedianya untuk memikat masyarakat agar mau mendekat dan menerima budaya baru, tetapi bukan untuk dimanfaatkan melainkan malah disembah-sembah. Bid'ah, syirik, klenik, sesat dan menyesatkan.

Syukurlah, belum lama ini ada kabar bahwa UII dan UMS tergerak untuk mengkaji kultur-kultur kraton dalam kaitannya dengan Islam, yang diharapkan dapat membuka kembali ilmu-ilmu yang melandasi berbagai prosesi.

Kesimpulannya:
[] Klenik adalah amalan tanpa ilmu.
[] Sedangkan tradisi2 tua makin lama pemahanan keilmuannya makin hilang,
dengan kata lain sering kali menjadi prosesi tanpa pemahaman keilmuan.
[] A=B, C=B, maka C=A

(Sementara) Tamat
p.s. SUmber data: dari berbagai artikel di internet

Ilmu & Klenik dan Tradisi-tradisi Tua Islam-Jawa (2)

Ilmu & Klenik dan Tradisi-tradisi Tua Islam-Jawa (2)


Ada ilmu yg telah dilupakan dan yg melupakan menjadi tersesat.

Jaman dahulu, orang-orang di jaman itu bisa memahami bagaimana pengaruh alam terhadap kondisi manusia. Sehingga muncul "ilmu" yang memahami pengaruh perubahan-perubahan alam terhadap kondisi manusia, misalkan posisi bulan & matahari, siang & malam, dll. Salah satu pengaruh perubahan alam ini adalah pengaruh kondisi gravitasi benda-benda angkasa terhadap emosi manusia, ketika bulan & matahari dekat maka pengaruh gravitasi dari angkasa yang memiliki vektor berlawanan dg gravitasi bumi terhadap manusia sedang puncak-puncaknya.

Sistem kalender di Cina pun lahir karena pemahaman-pemahanan ini, dan digunakan untuk mengetahui kapan seseorang memiliki dukungan pengaruh dari alam yang paling kuat. Saat itu, raja-raja Cina menggunakan kalender agar ketika senggama bisa dalam "kondisi puncak", baik secara lahir batin maupun dalam hal dukungan pengaruh alam (termasuk spiritual, jika sebelumnya telah menjalani "lelaku"), sehingga keturunan yang dihasilkan juga prima. Untuk memudahkan perhitungan, maka dalam penanggalan diberikan patokan-patokan dan nama-nama. Namun, ilmu yg mendasari makin lama makin tidak diketahui, dan yang semakin berkembang adalah menghapal patokan & nama, dan meramalkan jika pada saat waktu tertentu, maka kondisinya adalah bla-bla-bla. Lahirlah klenik.

Jaman dulu, di kawasan Babilonia, astronomi telah dikenal dan berkembang pesat. Perubahan posisi bumi terhadap matahari dapat dilihat dari perubahan posisi rasi bintang. Jika orang-orang jaman itu, seperti halnya orang-orang Cina, memahami bahwa posisi matahari & bulan mempengaruhi emosi seseorang, maka pada berbagai posisi rasi itu pengaruh alam mengalami perbedaan. Ketika astronomi mulai dilupakan pada generasi-generasi berikutnya, dan yang dihapalkan adalah patokan rasi-rasi dan pembawaan orang-orang yang kelahirannya dinaungi rasi-rasi tersebut, maka lahirlah klenik dalam wujud astrologi.

Walisanga mengadopsi budaya lokal agar masyarakat tidak merasa asing dengan "budaya baru", dan lahirlah gamelan, wayang, dan seni-seni yang khas, yang tidak berbeda dengan sebelumnya, tetapi juga tidak sama. Adanya wayang kulit yang bermata satu dan bertangan panjang hingga bawah lutut, dengan mengatasnamakan artistik, tetapi sesunguhnya adalah agar wayang tidak mirip dengan manusia, karena manusia yg normal bermata dua dan bertangan yang panjangnya tidak di bawah lutut. (Entah mengapa malah wayang golek jadi mirip kembali dg manusia)

Gamelan, wayang, dan seni-seni lainya dimanfaatkan untuk membawa masyarakat agar mendekat kepada para wali, sehingga setelah dekat (inklusif) akan mudah untuk diajak kepada Islam. Namun, kemudian penguasa-penguasa generasi berikutnya tidak lagi inklusif, dan menolak untuk menyamakan derajat. Bahkan, sarana-sarana seni tidak lagi digunakan untuk saling mendekatkan diri, melainkan untuk disembah-sembah.

Kalender jawa mataram peninggalan Sultan Agung pada awalnya digunakan untuk kebutuhan masyarakat, terutama untuk penentuan masa-masa bertani, sekaligus untuk mendekatkan masyarakat dengan budaya Islam (walau agar "lidah lokal" bisa mudah mengucapkan, maka nama-nama bulan dan tahun pun kemudian mengalami perubahan). Masyarakat jawa mengenal bulan Pasa sebagai bulan Ramadlan, dan tahu bahwa ada ritual puasa pada saat itu.

Namun, penyimpangan sering berawal dari melebih-lebihkan maupun karena meremehkan. Dianggaplah "puasa Islam" itu kurang mantap, tidak seperti ketika orang2 jaman dahulu bertapa, atau paling tidak berpuasa yang lama yang terus menerus (ngebleng), atau berpuasa tetapi berbukanya yang dengan tetap lelaku juhud (misalkan "puasa mutih", berbuka hanya dg makanan pokok tanpa bumbu dan lauk pauk, atau "puasa ngrowot" yang berbuka dg makanana yang tidak dimasak, misalkan buah atau umbi).

Pengaruh aliran syi'ah yang dibawa oleh sebagian wali juga memberikan pengaruh pada perkembangan Islam di Jawa. Pengagungan hari Asyu'ara membuat masyarakat Jawa demikian memuja dan mengeramatkan bulan Sura. Pengeramatan yg aneh juga, ketika orang awam ditabukan bikin acara di bulan tersebut kecuali kalau mau menanggung resiko celaka, tetapi justru para penguasa (orang keraton) membuat acara (misalkan pernikahan) di bulan itu, karena dipercaya membawa berkah yang besar.

Ketika jaman Demak, raja generasi kedua (Adipati Unus, suka memakai gelar Adipati dan bukan raja, dan menyandingkan pada gelarnya dengan nama Yunus yang merupakan ayahnya, untuk menghormati ayahnya yang merupakan Ulama besar di jamannya) yang beretnik Arab, memimpin penyerangan terhadap Portugis di Malaka. Pati Unus (yang bergelar pangean Sabrang Lor) yang dibantu oleh orang-orang Melayu (Islam) yang terusir dari dari Malaka, akhirnya gugur bersama anaknya yang sulung dan yang ketiga. Ada desas-desus bahwa kematiannya disebabkan karena ada pihak di Demak yang menginginkan kekuasaan jika kematiannya terjadi. Selain karena perebutan kekuasaan, sentimen kesukuan juga muncul. Orang Jawa tidak rela jika dipertuan oleh orang bukan Jawa. Aneh juga, nyatanya sejak jaman penjajahan hingga sekarang selalu saja ada penguasa yang mengabdi sepenuh hati kepada orang asing.

Nah, kupikir itulah beberapa faktor yang menjerumuskan masyarakat, menerima orang asing tetapi menolak dominasi. Menerima pengaruh asing, tetapi ketika mampu (ketika menjadi penguasa, atau ketika tidak adalagi yang melakukan kontrol, tidak seperti pada jaman walisanga), maka hanya memilih-pilih yang menguntungkan. Ditambah lagi, mencampurnya dengan hasil pemikiran sendiri.

Maka lahirlah Islam Jawa (khas Mataram) yang bukan Arab. Islam tetapi hanya label (santri-priayi-abangan). Islam yang ya Islam ya makan saren, ya Islam ya Ma-lima, penguasa yang ya (berlabel) Islam ya menyembelih ulama. Islam tetapi penuh dengan klenik, penuh dengan prosesi tetapi tidak shalat, tidak puasa Ramadan, tidak haji, tidak zakat.

Waktu antara Mataram Islam dengan Mataram Kuna merentang berabad-abad (7/8 s.d. 15/16 ?), tetapi tetap saja terpuruk.

Cobalah suatu ketika membuka M$ Encarta, pada jaman ketika Mataram Kuna tengah gegap gempita dengan pembangunan Borobudur, tariklah garis vertikal, maka akan diketemukan pada jaman yang sama, di Arab sana telah lahir Shahih Bukhori.

Ketika di Jawa, abad demi abad, diisi dengan kejumudan, pencerahan di dunia lain tengah berkembang.

Bersambung
p.s. Sumber data: dari berbagai artikel di internet

Ilmu & Klenik dan Tradisi-tradisi Tua Islam-Jawa (1)

Ilmu & Klenik dan Tradisi-tradisi Tua Islam-Jawa (1)


Peran kerajaan2 (berlabel) Islam di Jawa --sejak Demak, Cirebon, Banten, Pajang, hingga Mataram yang kemudian pecah menjadi Kasunanan Surakarta (kemudian juga ada Mangkunegaran sebagai empalannya) dan Kasultanan Ngayogyakarta-- pada perkembangan (terutama secara kuantitas) Islam di Jawa bagaimanapun juga tidak bisa diabaikan.

Namun, mungkin benar juga kata PAT bahwa salah satu keterpurukan masyarakat Jawa adalah akibat terbelenggu oleh klenik dan tahyul. Keterbukaan hati, keluasan wawasan, dan etik kerja rajin masyarakat pesisir (komunitas awal mula Islam di Jawa) tergantikan oleh kepicikan dan kejumudan, yang disokong oleh mitos, klenik, dan tahyul.

Sang Sultan Jogja pun pernah berkata, sebenarnya mitos-mitos itu hanya untuk mempertahankan kekuasaan, bahwa raja-raja Mataram (yang tidak ada hubungan darah/ keluarga dg kerajaan2 sebelumnya) mendapat restu dari penguasa alam (yang disimbolkan dg laut kidul & merapi, juga lawu), agar masyarakat awam memberikan dukungan. Restu penguasa plus ketiadaan hubungan darah ini pun digunakan untuk mencegah keturunan dari kerajaan2 sebelumnya bila hendak menuntut hak tahta.

Mitos laut kidul ini sebenarnya bukan orisinil ide mataram, sejak jaman Galuh di pasundan. Dinasti-dinasti pembangun candi2 di Jawa Tengah --i.e. Borobudur, Prambanan, Dieng, etc--, memiliki hubungan keluarga --dari pernikahan-- dg kerajaan2 di pasundan. Diansti ini kemudian musna dan masyarakatnya eksodus ke Jawa Timur, dan oleh Empu Sindok dibentuklah kerajaan baru dg Airlangga sebagai salah satu penerusnya. Pusaka2 Mataram kuna konon masih ada pada jaman Airlangga. Kemudian jaman berganti dan muncullah Kahuripan, Kediri (dan Jenggala), Singasari, dan Majapahit.

Kesemua kerajaan ini memiliki jalur hubungan keluarga, termasuk pendiri Demak pun anak Brawijaya II, raja Majapahit terahir. Demak dengan Cirebon dan Banten juga memiliki hubungan keluarga. Jaka Tingkir sebagai pendiri Pajang pun merupakan menantu raja Demak, dan ayahnya pun juga keturunan Brawijaya.

Nah, dari alur keluarga ini, mitos laut kidul sudah begitu tuanya. Bahkan penyebarannya demikian luas, bahkan di Nusa Tenggara dan Maluku dikenal juga mitos yang senada, yang mungkin terbawa ketika Sriwijaya (yang memiliki hubungan keluarga yg erat dg Mataram Kuna) dan Majapahit melakukan ekspansi.

Itu sekedar kekagumanku saja, kok bisa-bisanya cerita setua itu terus-menerus dipertahankan.

Nah, raja-raja Jawa (berlabel) Islam ini memang yg memberi fasilitas bagi perkembangan Islam di tanah Jawa. Namun, tidak semata-mata peran kerajaan saja yang terlibat. Effort zonder kekuasaan pun bisa sukses, misalkan daerah Pengging (Boyolali) yang dimakmurkan oleh Kebo Kananga ayah Jaka Tingkir yang justru menghindar dari kekuasaan, juga berbagai pondok pesantren tua, misalkan di (kalau tidak salah) kebumen yang lebih tua dari kebumen sendiri, yang jauh dari hiruk pikuk kekuasaan.

Penguasa pun tidak selamanya mendukung. Sultan Agung memang OK, tetapi ada keturunannya yang justru menyembelih banyak kiayi. Keturunannya pun ada yang mati dalam pelarian dikejar-kejar rakyatnya. Penguasa ada yang baik ada yang buruk. Sultan Agung dipandang memiliki keluasan ilmu, hingga Islam makmur di jamannya. Adanya penanggalan Jawa-Islam adalah pada jamannya, yang menggabungkan penanggalan Saka (berbasis matahari) dengan Hijriyah (yang qomariayah), dengan angka tahun yang tetap meneruskan tahun Saka (terakhir yang asli) dan tanggal serta bulan yang mengadopsi peredaran bulan yang dianggap lebih sesuai dg kebutuhan masyarakat, misalkan untuk penentuan masa-masa dalam bertani. Namun ada juga penguasa-penguasa bodoh yang tidak memahami "ilmu" dari peninggalan wali sanga dan leluhurnya, malah terjebak di klenik dan tahayul.

Yah, ini mencoba tinjauan dari sisi sejarah, bahwa ada ilmu yg telah dilupakan dan yg melupakan menjadi tersesat

Bersambung.

p.s. sumber data: dari berbagai tulisan di internet