23.1.07

Ilmu & Klenik dan Tradisi-tradisi Tua Islam-Jawa (1)

Ilmu & Klenik dan Tradisi-tradisi Tua Islam-Jawa (1)


Peran kerajaan2 (berlabel) Islam di Jawa --sejak Demak, Cirebon, Banten, Pajang, hingga Mataram yang kemudian pecah menjadi Kasunanan Surakarta (kemudian juga ada Mangkunegaran sebagai empalannya) dan Kasultanan Ngayogyakarta-- pada perkembangan (terutama secara kuantitas) Islam di Jawa bagaimanapun juga tidak bisa diabaikan.

Namun, mungkin benar juga kata PAT bahwa salah satu keterpurukan masyarakat Jawa adalah akibat terbelenggu oleh klenik dan tahyul. Keterbukaan hati, keluasan wawasan, dan etik kerja rajin masyarakat pesisir (komunitas awal mula Islam di Jawa) tergantikan oleh kepicikan dan kejumudan, yang disokong oleh mitos, klenik, dan tahyul.

Sang Sultan Jogja pun pernah berkata, sebenarnya mitos-mitos itu hanya untuk mempertahankan kekuasaan, bahwa raja-raja Mataram (yang tidak ada hubungan darah/ keluarga dg kerajaan2 sebelumnya) mendapat restu dari penguasa alam (yang disimbolkan dg laut kidul & merapi, juga lawu), agar masyarakat awam memberikan dukungan. Restu penguasa plus ketiadaan hubungan darah ini pun digunakan untuk mencegah keturunan dari kerajaan2 sebelumnya bila hendak menuntut hak tahta.

Mitos laut kidul ini sebenarnya bukan orisinil ide mataram, sejak jaman Galuh di pasundan. Dinasti-dinasti pembangun candi2 di Jawa Tengah --i.e. Borobudur, Prambanan, Dieng, etc--, memiliki hubungan keluarga --dari pernikahan-- dg kerajaan2 di pasundan. Diansti ini kemudian musna dan masyarakatnya eksodus ke Jawa Timur, dan oleh Empu Sindok dibentuklah kerajaan baru dg Airlangga sebagai salah satu penerusnya. Pusaka2 Mataram kuna konon masih ada pada jaman Airlangga. Kemudian jaman berganti dan muncullah Kahuripan, Kediri (dan Jenggala), Singasari, dan Majapahit.

Kesemua kerajaan ini memiliki jalur hubungan keluarga, termasuk pendiri Demak pun anak Brawijaya II, raja Majapahit terahir. Demak dengan Cirebon dan Banten juga memiliki hubungan keluarga. Jaka Tingkir sebagai pendiri Pajang pun merupakan menantu raja Demak, dan ayahnya pun juga keturunan Brawijaya.

Nah, dari alur keluarga ini, mitos laut kidul sudah begitu tuanya. Bahkan penyebarannya demikian luas, bahkan di Nusa Tenggara dan Maluku dikenal juga mitos yang senada, yang mungkin terbawa ketika Sriwijaya (yang memiliki hubungan keluarga yg erat dg Mataram Kuna) dan Majapahit melakukan ekspansi.

Itu sekedar kekagumanku saja, kok bisa-bisanya cerita setua itu terus-menerus dipertahankan.

Nah, raja-raja Jawa (berlabel) Islam ini memang yg memberi fasilitas bagi perkembangan Islam di tanah Jawa. Namun, tidak semata-mata peran kerajaan saja yang terlibat. Effort zonder kekuasaan pun bisa sukses, misalkan daerah Pengging (Boyolali) yang dimakmurkan oleh Kebo Kananga ayah Jaka Tingkir yang justru menghindar dari kekuasaan, juga berbagai pondok pesantren tua, misalkan di (kalau tidak salah) kebumen yang lebih tua dari kebumen sendiri, yang jauh dari hiruk pikuk kekuasaan.

Penguasa pun tidak selamanya mendukung. Sultan Agung memang OK, tetapi ada keturunannya yang justru menyembelih banyak kiayi. Keturunannya pun ada yang mati dalam pelarian dikejar-kejar rakyatnya. Penguasa ada yang baik ada yang buruk. Sultan Agung dipandang memiliki keluasan ilmu, hingga Islam makmur di jamannya. Adanya penanggalan Jawa-Islam adalah pada jamannya, yang menggabungkan penanggalan Saka (berbasis matahari) dengan Hijriyah (yang qomariayah), dengan angka tahun yang tetap meneruskan tahun Saka (terakhir yang asli) dan tanggal serta bulan yang mengadopsi peredaran bulan yang dianggap lebih sesuai dg kebutuhan masyarakat, misalkan untuk penentuan masa-masa dalam bertani. Namun ada juga penguasa-penguasa bodoh yang tidak memahami "ilmu" dari peninggalan wali sanga dan leluhurnya, malah terjebak di klenik dan tahayul.

Yah, ini mencoba tinjauan dari sisi sejarah, bahwa ada ilmu yg telah dilupakan dan yg melupakan menjadi tersesat

Bersambung.

p.s. sumber data: dari berbagai tulisan di internet

0 comments: